Sponsor

Ads

Komik Digital “Dedes”, Komik Fiksi Sejarah Rasa Kekinian

Komik Digital"Dedes" Karya Esti Siwi

Revolusi dunia teknologi kini semakin mempermudah para komikus untuk berekspresi melalui komik. Berbagai perangkat lunak sangat membantu mengkreasikan ide gagasan. Sekarang era dimana kursor computer dan mouse menggantikan alat gambar. Layar gadget menggantikan peran kertas bahkan dapat menghasilkan ribuan warna. 

Sekarang kita sudah memasuki kebiasaan membaca komik yang berbeda. Media terus mengalami perkembangan tidak terkecuali komik,  bentuk fisik komik kini mulai berubah saat muncul aplikasi membaca komik digital dengan cara scroll down, salah satunya Webtoon.

Untuk kedua kalinya, Rupa dan Kata mengikuti instagram Live, kali ini dengan narasumber Esti Siwi seorang komikus webtoon dengan tema “Komik Digital: Cara Seru Baca Sejarah dan Budaya”, tepatnya pada hari Sabtu, 28 Mei 2022 pukul 19.30 WIB.

Acara yang diselenggarakan oleh Pandi lewat Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara ini merupakan program rutin yang disiaran secara langsung (IG Live) di akun instagram @merajut_Indonesia.

Acara bincang MIMDAN yang pandu oleh Evi Sri Rezeki ini bertujuan sebagai media edukasi tentang budaya dan memperkenalkan pentingnya aksara nusantara sebagai bagian dari perkembangan sejarah bangsa melalui digitalisasi aksara nusantara. Jadi nantinya seluruh aksara yang ada di Nusantara akan digitalisasikan ke dalam bentuk digital sehingga bisa digunakan melalui perangkat laptop hingga smartphone.

Begitupun dengan komik digital sebagai upaya penyaluran gagasan bagaimana mengenal atau membaca sejarah. Komik tidak hanya memiliki unsur menghibur saja, namun dalam gagasan komik sebagai alat cerita, menjadi medium yang melayani cerita. 

Ada banyak sekali gagasan medium dalam komik, beberapa diantaranya: komik sebagai alat mengungkapan kenyataan, komik sebagai media eksplorasi naratif, komik sebagai eksplorasi seni rupa, komik sebagai ikonografi dan komik sebagai media literasi.

Bincang MIMDAN #7

Dalam bincang MIMDAN #7 Esti Siwi berbagi cerita dan proses bagaimana awal mulanya ia melahirkan karya komik webtoon berjudul “Dedes”. Berawal dari membaca Novel “Arok Dedes” karya Pramoedya Ananta Toer membuat ia larut dalam cerita. 

Pemilik akun egestigi di webtoon ini memiliki latar belakang pendidikan S1 Desain Komunikasi Visual Universitas Telkom, memiliki segudang prestasi, seperti: juara ke-3 anti korupsi komik strip, mahasiswi berprestasi tahun 2017 dan masih banyak prestasi lainnya.

Awalnya Esti menekuni dunia Illustrasi dan komik dengan media kertas atau manual. Ia lalu mengenal dunia gambar digital setelah  kuliah. Untuk gaya gambar ia memilih gaya khas Korea, sedangkan untuk gaya cerita terinspirasi dari Pramoedya Ananta Toer dan Sudjewo Tedjo. 

Melatarbelakangi pembuatan komik Dedes, Novel Ken Arok menjadi pemantik untuk ia mencari lebih dalam sejarah dibalik berdirinya kerajaan Tumapel dan peristiwa di dalamnya. Namun disini Esti memberi sedikit twist, ia menggunakan genre Isekai dalam komik fiksi sejarahnya. Genre yang lahir dari Negara Jepang ini menjadikan tokoh utama Dedes adalah seorang Mahasiswi yang berpindah tubuh menjadi Ken Dedes dari sejarah berdirinya kerajaan Tumapel.

“Seri komik Dedes adalah fiksi jadi saya harus hati-hati dan tidak menjadikan komik Dedes sebagai literature utama, tapi sebagai pemicu untuk lebih tertarik untuk riset dan membaca sejarah bangsa sendiri, tidak hanya tertarik dengan sejarah bangsa lain” tutur Esti menjawab pertanyaan host mengenai alternative sejarah melalui Dedes.

Esti memilih Ken Dedes sebagai tokoh utama karena ia juga memiliki peran penting, ada pengorbanan Dedes memperjuangkan Ken Arok. Ia tertarik sudut pandang Dedes sebagai perempuan bagaimana dia bisa bertahan dalam mengatasi berbagai masalah dalam hidupnya dan mampu bertahan sampai akhir. 

Salah Satu Lembaran Adegan Dalam Komik "Dedes" Karya Esti Siwi

Proses pembuatan komik Dedes diawali dengan riset berbagai literasi. Menurutnya cukup sulit dan sedikit rumit karena literasi jaman tersebut sumbernya sangat terbatas. Sumber Negarakertagama dan Pararaton berbeda. Karena adanya perbedaan-perbedaan tersebut ada celah, mengambil sumber mana yang akan dipilih. Sumber lainnya dari jurnal, buku-buku sejarah baik cetak maupun e-book juga dari buku fiksi.”

Proses pemilihan dan pemilahan data yang diperoleh dari studi literasi menjadi konten cerita. Ibarat memilih potongan puzzle, memilih potongan yang mana yang cocok dengan rangkaian cerita atau gagasan yang sudah dibuat. 

Komik Dedes selain menggunakan style dan media yang modern, banyak juga adaptasi fiksi yang mengarah kearah modernitas seperti Ken Dedes yang memakai pakaian. Kolaborasi dengan hal modern bukanlah hal yang harus dipertentangkan. Karena kalau harus mengikuti pakem, maka semuanya akan habis dimakan jaman. Dan jika generasi muda tidak mengenal sejarah, tidak melulu mereka disalahkan. Generasi diatasnya yang seharusnya tidak mengkotak-kotakan, itulah mengapa modernisasi diperlukan.

Bentuk komik fiksi sejarah yang diangkat dalam kisah Dedes ini menurut Esti tidak bertujuan untuk menyampaikan fakta, melainkan sebagai mediator agar pembaca tertarik untuk mencari tahu fakta yang sebenarnya. 

Namun cerita fiksi sejarah juga bisa menjadi catatan kaki atau kata kunci yang bertujuan untuk memberitahukan landasan membuat cerita apa. misalnya: dalam scene dimana karakter Tiaga muridnya Brahmana yang tidak suka menonton wayang. Itu berdasarkan literasi karena pada waktu itu kaum Brahmana tidak suka menonton wayang karena hanya bayang-bayang. Sedangkan dewa tidak bisa diwakili oleh bayang-bayang. 

Di sesi akhir, Esti berbagi tips untuk pemula membuat komik digital. Pertama siapkan perangkat, juga ide gagasan. Jangan lupa riset pasar. Apabila ceritanya mengenai sejarah maka harus riset dari berbagai sumber. Kemudian hasil riset tersebut harus dikelola dan diaplikasikan ke dalam bentuk gambar.

Seperti pada tulisan sebelumnya yang berjudul Bincang MIMDAN #5 Tentang Budaya Remixed, zaman digital saat ini menghasilkan banyak anak muda yang berhasil menggunakan digitalisasi media sebagai alat ekspresi atau bercerita. Esti bisa dibilang adalah salah satunya, ia berhasil mengkombinasikan media komik digital dengan cerita fiksi sejarah. (Penulis: Besti Rahulasmoro)


Share on Google Plus

About rupadankata

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar