Performance Art Solidaritas Dalam “Kota Nir Nampak"

Foto: Kota di Malam Hari, Sumber: Hari Brahmana

Ada banyak hal yang bisa dibahas dari sebuah kota, ambillah contoh, kebijakan pemerintah setempat, budaya urban, kesejahteraan pekerja, kesejahteraan ibu dan anak, kemacetan, penggusuran, pembangunan gedung-gedung bertingkat, harga-harga yang semakin mahal dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana dengan Bandung? Ibu kota Jawa Barat ini sekarang menjadi kota tujuan wisata bahkan sekaligus dijadikan sebagai barometer kota kreatif dan paris van javanya-Indonesia. Seperti kota besar lainnya, permasalahan di kota Bandung menjadi catatan tersendiri bagi warganya. Beberapa aktivis, seniman dan juga masyarakat Bandung kerap melontarkan kritik yang disampaikan, baik melalui media elektronik, media sosial hingga langsung ke pihak terkait. Hal ini menunjukkan bahwa kota menyimpan segudang masalah yang jika diukur dengan apakah sudah layak atau belum, jawabannya bisa dibilang masih kurang.

Sebanyak permasalahan yang ada , artinya, ada banyak pula ungkapan seniman dalam karyanya perihal membahas tentang kota. Jika seni memiliki jalannya sendiri, maka mampukah ia merekam realitas ditengah perubahan zaman dan menghadirkan fakta terhadap kotanya? Sementara, semakin terjadi penyempitan ruang ekspresi, terbentuk jarak, semakin teranelisasi, nampak namun tidak bisa diraba. 

Pada hari sabtu, 7 Oktober 2017 lalu di Asbestos Art Space, Bandung berlangsung acara Performance Art, yang diberi tajuk "Kota Nir Nampak". Menampilkan performance artist dari Bandung: Dylan Muhammadi Christiawan, Besti Rahulasmoro, Mimi Fadmi, Harry Santoso dan Rudi ST Darma. Hadir pula seniman dari Tasikmalaya: Irvan Mulyadie. 

Mimi Fadmi seniman sekaligus sebagai penggagas acara tersebut menjelaskan bahwa pemilihan ke-6 seniman tersebut atas dasar bagaimana seniman yang sudah berkeluarga atau pernah menikah mengkritisi kota dari sudut pandangnya masing-masing. Mengingat keluarga merupakan unit terkecil dari pemerintahan, maka sejauh mana intervensi pemerintah baik kota maupun negara terhadap keluarga yang dengan segala beban memaksa. 

Mimi juga menambahkan bahwa dalam Performance Art Solidaritas "Kota Nir Nampak", hadir bagaimana kontradiksi-kontradiksi yang ada di dalam kota dan daya kritisi yang disampaikan melalui karya performance art oleh masing-masing seniman yang terlibat. (Penulis: Besti Rahulasmoro)

Baca Artikel Selanjutnya: (Klik ini : "6 Seniman Performance Art Dalam "Kota Nir Nampak" )
Share on Google Plus

About rupadankata

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar